Dalam Islam, sikap berlebihan atau melampaui batas (ghuluw) adalah sesuatu yang dilarang.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ ﴾ سورة النساء: ١٧١
“Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu.” (QS. An-Nisa: 171)
Artinya, kita tidak boleh menambah-nambahi apa yang sudah ditetapkan dalam agama. Termasuk dalam hal ini adalah berlebihan dalam memuji Nabi Muhammad ﷺ.
Sikap berlebihan dalam memuji, yang dalam istilah Arab disebut al-ithro’, bisa membuat seseorang melangkah terlalu jauh—hingga menyebutkan hal-hal yang tidak benar atau bahkan menyerupai sifat-sifat Tuhan.
Larangan Nabi ﷺ
Nabi ﷺ sendiri secara tegas melarang umatnya memujinya secara berlebihan. Beliau bersabda:
«لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ »رواه البخاري
“Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana orang-orang Nasrani memuji Isa putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Imam al-Bukhari)
Beliau ingin agar umatnya tetap menjaga keseimbangan: mencintai dan memuliakan beliau, tapi tetap dalam batas yang syar’i.
Contoh dari Para Sahabat
Beberapa sahabat pernah berkata kepada Nabi ﷺ, “Engkau adalah pemimpin kami,” atau, “Engkau adalah yang terbaik di antara kami.” Namun Nabi ﷺ menjawab dengan rendah hati:
“Assayyid (Pemimpin) itu adalah Allah Tabaraka wa Ta’ala.” (HR. Imam Abu Dawud)
Ketika mereka kembali memuji beliau dengan kalimat-kalimat yang lebih tinggi lagi, beliau bersabda:
«قُولُوا بِقَوْلِكُمْ، أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ، وَلَا يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ» رواه أبو داود
“Ucapkanlah sebagaimana ucapan kalian yang wajar, atau sebagian saja darinya. Jangan sampai setan menyeret atau menyesatkan kalian.” (HR. Imam An-Nasa’i)
Nabi ﷺ seakan berkata: “Silakan puji aku sebagaimana mestinya, secukupnya saja. Jangan naikkan pujian itu ke tingkat yang berlebihan, karena di situlah setan mulai menyesatkan manusia.”
Hadis ini merupakan peringatan Nabi ﷺ agar tidak melampaui batas dalam ucapan dan pujian, serta agar waspada terhadap godaan setan yang menjerumuskan manusia ke dalam ghuluw dan kesesatan.
Tujuan Larangan Ini
Padahal, Nabi Muhammad ﷺ memang makhluk paling mulia, paling baik, dan paling agung. Namun, beliau tidak ingin umatnya terseret ke dalam sikap yang bisa membuka pintu kesyirikan. Beliau menjaga agar umatnya tetap di atas tauhid—menyembah hanya kepada Allah semata.
Karena itu, beliau mengajarkan kita untuk menyebut beliau dengan dua sifat yang paling tinggi bagi seorang manusia, sekaligus paling aman bagi aqidah, yaitu:
“Hamba Allah” dan “Rasul-Nya.”
Penutup
Maka, mencintai dan memuliakan Nabi ﷺ adalah bagian dari iman, namun menjaga batas-batas syariat dalam memuliakan beliau adalah bentuk kecintaan yang paling jujur dan paling selamat. Nabi ﷺ tidak dimuliakan dengan ghuluw, tetapi dengan ketaatan, ittiba’ (mengikuti sunnah), dan penjagaan tauhid sebagaimana yang beliau ajarkan dan teladankan.
Barang siapa menempatkan Nabi ﷺ sebagaimana kedudukan yang Allah tetapkan—sebagai Hamba Allah dan Rasul-Nya—maka ia telah memuliakan beliau dengan kemuliaan yang paling tinggi, tanpa mengurangi hak beliau dan tanpa melampaui batas. Inilah jalan para sahabat, para tabi’in, dan seluruh Ahlus Sunnah wal Jama’ah: cinta tanpa berlebihan, hormat tanpa melampaui batas, dan pujian yang dibingkai oleh iman serta ilmu.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang benar dalam mencintai Nabi ﷺ, lurus dalam bertauhid, dan istiqamah di atas sunnah hingga akhir hayat. Aamiin.
💬 Tulis doa terbaikmu di kolom komentar dan bagikan sebagai amal jariyah
Website: www.mutiaratauhid.web.id
Facebook: Mencintai Ahlul Bait | Dakwah Kebenaran
Instagram: @jejaktauhid11
TikTok: @dakwahsunnah011
YouTube: Kembali ke Tauhid
Likee: Hakikat Tauhid

