Ahlus Sunnah wal Jamaah memiliki manhaj yang jelas dan kokoh dalam mengambil dalil agama. Mereka tidak memahami Islam berdasarkan perasaan, dugaan, atau hawa nafsu, tetapi bersandar pada sumber-sumber yang sah dan disepakati dalam syariat.
Melalui sumber-sumber inilah mereka mengenal agama, memahami perintah dan larangan Allah, serta mengetahui jalan yang diridhai oleh Rabb mereka.
Tiga Sumber Utama Pengambilan Dalil
Sumber-sumber syariat yang menjadi pijakan Ahlus Sunnah wal Jamaah ada tiga:
- Kitab Allah Ta‘ala (Al-Qur’an)
Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang menjadi sumber utama dan tertinggi dalam Islam. Di dalamnya terdapat petunjuk hidup, prinsip akidah, hukum-hukum ibadah, serta pedoman akhlak dan adab. - Sunnah Nabi ﷺ yang shahih
Sunnah adalah penjelas Al-Qur’an dan penerapannya dalam kehidupan nyata. Ia menjadi hujjah yang wajib diikuti sebagaimana Al-Qur’an, karena bersumber dari wahyu Allah Ta‘ala. - Ijma’ Salafus Shalih
Ijma’ adalah kesepakatan para ulama dari generasi Salaf dalam suatu perkara agama. Ia menjadi dalil yang kuat karena bersandar pada pemahaman generasi terbaik umat ini.
Ketiga sumber ini merupakan fondasi agama Islam dan hujjah dalam menetapkan akidah, ibadah, muamalah, akhlak, serta adab. Inilah ciri khas Ahlus Sunnah wal Jamaah: tidak mengambil agama kecuali dari dalil yang sahih dan pijakan yang kokoh.
Dalil tentang Kewajiban Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah
Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ (سورة الشورى: ١٠
“Dan apa pun yang kalian perselisihkan tentangnya, maka keputusannya kembali kepada Allah.” (QS. Asy-Syura: 10)
Allah Ta‘ala juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا سورة النساء: ٥٩
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”
(QS. An-Nisa: 59)
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa setiap perselisihan dalam agama wajib dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah, bukan kepada akal semata, tradisi, atau pendapat pribadi.
Kehujjahan Ijma’ Salafus Shalih
Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
سورة النساء: ١١٥
“Dan barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti selain jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang dipilihnya dan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahannam.” (QS. An-Nisa: 115)
Ayat ini menunjukkan bahwa mengikuti jalan kaum mukminin, yaitu para sahabat dan generasi setelah mereka yang lurus, merupakan kewajiban dan bentuk keselamatan.
Yang dimaksud dengan Salaf adalah tiga generasi terbaik umat Islam, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ( متفق عليه )
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi yang setelah mereka, lalu generasi yang setelah mereka.” (HR. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)
Makna sederhananya: Generasi para sahabat Nabi ﷺ adalah yang terbaik, kemudian disusul oleh generasi tabi‘in, lalu tabi‘ut tabi‘in. Mereka paling baik dalam keimanan, pemahaman, dan pengamalan agama.
Ahlus Sunnah wal Jamaah sangat memuliakan Salafus Shalih dan menjadikan pemahaman mereka sebagai rujukan dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah. Hal ini karena mereka adalah generasi yang paling dekat dengan masa kenabian, paling jujur imannya, paling lurus amalnya, dan paling memahami maksud Allah dan Rasul-Nya.
Terlebih setelah tersebarnya bid’ah, melemahnya ilmu, dan rusaknya pemahaman, kembali kepada manhaj Salaf menjadi benteng dari penyimpangan.
Buah Mengetahui dan Berpegang pada Sumber Dalil
Di antara buah besar dari memahami sumber-sumber pengambilan dalil adalah:
- Tumbuhnya sikap mengagungkan Al-Qur’an dan Sunnah serta tunduk kepada hukum-hukum Allah.
- Terhindar dari kebingungan dan kontradiksi akibat mengikuti berbagai sumber yang saling bertentangan.
- Mampu memahami nash syariat dengan benar sesuai maksud Allah dan Rasul-Nya.
- Selamat dari penyimpangan akidah dan amalan yang muncul akibat hawa nafsu, logika semata, dan tipu daya setan.
Dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman Salafus Shalih, seorang muslim berjalan di atas jalan yang lurus, aman, dan diridhai Allah Ta‘ala.
💬 Tulis doa terbaikmu di kolom komentar dan bagikan sebagai amal jariyah
Website: www.mutiaratauhid.web.id
Facebook: Mencintai Ahlul Bait | Dakwah Kebenaran
Instagram: @jejaktauhid11
TikTok: @dakwahsunnah011
YouTube: Kembali ke Tauhid
Likee: Hakikat Tauhid

