Nama dan Latar Belakang
Abu Ubaidah bin Al-Jarrah—nama lengkapnya Amir bin Abdullah bin Al-Jarrah—lahir sekitar 40 tahun sebelum hijrah. Ia termasuk sahabat terdekat Nabi ﷺ dan salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga.
Kepribadian dan Keutamaannya
Abu Ubaidah dikenal sebagai sosok yang bersahaja: bertubuh tinggi dan kurus, jenggotnya tipis, tetapi akhlaknya mulia. Ia hidup zuhud, wara’, sabar, rendah hati, dan sangat memahami Al-Qur’an serta sunnah.
Ia termasuk generasi awal yang memeluk Islam dan hijrah ke Habasyah dalam gelombang hijrah kedua. Sepanjang hidupnya, ia senantiasa berada di sisi Nabi ﷺ dalam peristiwa-peristiwa besar, termasuk dalam semua peperangan.
Salah satu kisah paling menggetarkan terjadi saat Perang Uhud. Ketika wajah Nabi ﷺ tertancap dua mata rantai baju besi, Abu Ubaidah mencabut keduanya dengan giginya sendiri hingga dua gigi serinya tanggal. Sejak itu, ia dikenal sebagai salah satu sahabat dengan senyum terindah.
Julukan: Amanah Umat Ini
Nabi Muhammad ﷺ sendiri memberikan gelar yang begitu mulia:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينًا، وَإِنَّ أَمِينَ هَذِهِ الأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ»
متفق عليه
“Setiap umat memiliki orang yang paling dipercaya, dan rang yang paling dipercaya dari umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” (HR. Imam al-Bukhari dan Muslim)
Gelar ini diberikan saat penduduk Yaman meminta seorang utusan yang bisa mengajarkan mereka Islam dan sunnah. Rasulullah ﷺ pun memegang tangan Abu Ubaidah dan mengutusnya.
Peran di Masa Kekhalifahan
Pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, beliau menjadi salah satu dari empat panglima besar yang dikirim untuk membuka wilayah Syam. Di masa Umar bin Khattab, ia memimpin penaklukan besar di kota Damaskus dan berbagai kota penting lainnya.
Kecintaan dan kekaguman Umar kepada Abu Ubaidah begitu dalam, sampai-sampai ia pernah berkata,
«لَوْ كَانَ فِي هَذَا الْبَيْتِ مِثْلُ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ لَسُرِرْتُ» (رواه أحمد والطبراني، وصححه جمع من أهل العلم)
“Seandainya di rumah ini ada orang seperti Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, niscaya aku akan sangat senang.” ( HR. Imam Ahmad dan At-Thabrani)
Hadis ini menunjukkan tingginya kedudukan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah radhiyallahu ‘anhu, hingga Nabi ﷺ berharap orang-orang dengan sifat amanah dan akhlaknya memenuhi majelis dan rumah beliau.
Akhir Hayat
Tahun 18 Hijriah, wabah Tha’un Amwas menyebar luas di Syam. Abu Ubaidah termasuk salah satu korban, dan beliau wafat di Ghaur, wilayah Yordania saat ini.
Pelajaran Kehidupan Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallāhu ‘anhu
- Amanah adalah mahkota tertinggi seorang mukmin
Abu ‘Ubaidah digelari langsung oleh Rasulullah ﷺ sebagai orang paling terpercaya di umat ini—kemuliaan yang lahir dari kejujuran dan ketakwaan. - Cinta kepada Rasulullah ﷺ mengalahkan rasa sakit
Ia rela mencabut mata rantai dari wajah Nabi ﷺ dengan giginya sendiri, mengajarkan bahwa cinta sejati diwujudkan dengan pengorbanan, bukan kata-kata. - Kesederhanaan tidak menghalangi kemuliaan
Hidup zuhud dan bersahaja, namun Allah mengangkat derajatnya hingga menjadi panglima dan sahabat pilihan. - Pemimpin sejati adalah yang rendah hati dan bertanggung jawab
Meski memimpin penaklukan besar, Abu ‘Ubaidah tetap jauh dari kesombongan dan selalu mengutamakan amanah umat. - Kesetiaan hingga akhir hayat adalah tanda keikhlasan
Ia wafat di medan tugas saat wabah melanda, meninggalkan teladan bahwa hidup dan mati seorang mukmin adalah untuk Allah.
💬 Tulis doa terbaikmu di kolom komentar dan bagikan sebagai amal jariyah
Website: www.mutiaratauhid.web.id
Facebook: Mencintai Ahlul Bait | Dakwah Kebenaran
Instagram: @jejaktauhid11
TikTok: @dakwahsunnah011
YouTube: Kembali ke Tauhid
Likee: Hakikat Tauhid

