Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu

Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu

Nama dan Kelahirannya

Nama lengkap beliau adalah Abdurrahman bin Auf bin Abd Auf bin Abdu bin Al-Harits bin Zuhrah bin Kilab, yang nasabnya bertemu dengan nasab Nabi ﷺ pada kakek ketujuh, Kilab bin Murrah.
Beliau lahir di Mekkah, sekitar sepuluh tahun setelah Tahun Gajah.

Nama beliau sebelum masuk Islam adalah Abdu Amr, namun setelah memeluk Islam, Nabi ﷺ menggantinya menjadi Abdurrahman. Beliau juga dikenal dengan panggilan kunyah Abu Muhammad.

Kisah dan Keutamaannya

  1. Keutamaan dalam Islam:
    • Beliau adalah salah satu dari delapan orang pertama yang memeluk Islam.
    • Termasuk dalam sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.
    • Ikut serta dalam dua hijrah: ke Habasyah dan Madinah.
    • Turut serta dalam Perang Badar, Baiat Ridwan, dan seluruh peperangan bersama Nabi ﷺ.
  2. Sifat-Sifat Utama:
    • Dikenal dengan kesucian, kedermawanan, kerendahan hati, dan zuhud.
    • Dermawan dalam berinfak di jalan Allah, bahkan di akhir hayatnya, ia mewasiatkan hartanya untuk para sahabat Badar dan istri-istri Nabi ﷺ.
    • Pedagang ulung, memulai dengan tangan kosong di Madinah hingga menjadi salah satu sahabat yang paling kaya.
      • Ketika Sa’ad bin Rabi’ menawarkan harta dan tempat tinggal, beliau menolak dan hanya meminta,
        “Tunjukkan aku pasar.” Setelah itu, beliau berdagang dan hartanya berkembang pesat.
  3. Hubungan dengan Nabi ﷺ:
    • Nabi ﷺ pernah shalat di belakangnya saat Perang Tabuk.
    • Beliau sangat perhatian kepada Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi ﷺ) setelah wafatnya Nabi, memberikan perhatian khusus dan bantuan materi kepada mereka.
  4. Kepemimpinan dan Syura:
    • Abdurrahman menolak untuk menjadi pemimpin, meskipun termasuk salah satu anggota syura yang dipilih oleh Umar radhiyallahu ‘anhu untuk menentukan khalifah setelah beliau.
  5. Kedermawanannya:
    • Membelanjakan hartanya untuk Islam, termasuk memberikan 400 dinar kepada setiap peserta Perang Badar yang masih hidup saat menjelang wafatnya.
    • Membeli sumur dan menjadikannya wakaf untuk kepentingan umat Muslim.
    • Menyediakan bantuan besar untuk pasukan dalam Perang Tabuk.

Wafatnya

Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu wafat pada tahun 32 Hijriah di usia 75 tahun.
Jenazah beliau dishalatkan oleh Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dan dimakamkan di Baqi’, Madinah

Pelajaran dari Kehidupan Abdurrahman bin Auf

  1. Kedermawanan:
    Hartanya tidak menjadikannya lalai, tetapi justru digunakan untuk kepentingan umat dan Islam.
  2. Keutamaan Akhlak:
    Kesederhanaan, kerendahan hati, dan perhatian kepada sesama menjadikannya panutan.
  3. Semangat Berdikari:
    Kisah beliau di pasar menunjukkan ketekunan dan kegigihan yang menginspirasi.
  4. Prioritas Akhirat:
    Meski kaya raya, beliau tetap fokus pada persiapan untuk kehidupan akhirat.

Semoga Allah Ta’ala meridhai Abdurrahman bin Auf dan menjadikannya teladan bagi kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights