Nama dan Asal Usul
Sa’ad bin Abi Waqqas al-Qurasyi az-Zuhri adalah salah satu sahabat istimewa Rasulullah ﷺ. Ia berasal dari kabilah Bani Zuhrah, kabilah yang sama dengan ibunda Nabi ﷺ. Lahir di Mekah 14 tahun sebelum kenabian, ia tumbuh besar di tengah masyarakat Quraisy.
Masuk Islam di Usia Muda
Sa’ad memeluk Islam di usia muda. Ia termasuk dari generasi pertama yang masuk Islam. Sebagian riwayat menyebutkan ia adalah orang ketiga, sebagian lainnya menyebutkan ketujuh. Apa pun urutannya, ia termasuk as-sabiqun al-awwalun — orang-orang yang paling awal menjawab seruan tauhid.
Pejuang Sejati Sejak Awal
Sa’ad dikenal sebagai sahabat pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah. Ini terjadi dalam ekspedisi pertama yang diutus Rasulullah ﷺ untuk menghadapi kafilah Quraisy. Sejak saat itu, ia selalu berada di barisan terdepan dalam perjuangan Islam.
Pada Perang Uhud, Rasulullah ﷺ berkata kepada Sa’ad, “Panahlah, demi ayah dan ibuku aku pertaruhkan untukmu!” Ini adalah ungkapan cinta dan kepercayaan Nabi yang luar biasa — jarang diberikan kepada sahabat lain.
Doa yang Menjadikan Panahnya Tak Pernah Meleset
Rasulullah ﷺ pernah berdoa untuknya,
اللَّهمَّ سدِّدْ سَهمَه، وأجِبْ دعوتَه.
“Ya Allah, tepatkanlah panahnya, dan kabulkanlah doanya.” (HR. Imam al-Daraquthni)
Berkat doa ini, Sa’ad dikenal sebagai pemanah paling akurat dan doanya mustajab.
Panglima Kemenangan dalam Sejarah Islam
Di masa Khalifah Umar bin Khattab, Sa’ad diangkat sebagai panglima perang dalam pertempuran melawan Persia. Ia memimpin pasukan Muslim dalam Perang Qadisiyah dan berhasil meruntuhkan pusat kekuasaan Kisra di Mada’in, Irak. Keberhasilannya ini menjadi tonggak penting dalam sejarah perluasan wilayah Islam.
Setelahnya, Umar mengangkat Sa’ad sebagai gubernur Kufah dan menjadikannya salah satu dari enam anggota syura yang diberi amanah memilih khalifah setelah beliau wafat.
Wasiat Bijak Seorang Ayah
Sa’ad adalah pribadi yang zuhud dan berhati-hati terhadap fitnah dunia. Ia pernah berwasiat kepada putranya:
«إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تُصَلِّيَ فَأَحْسِنِ الْوُضُوءَ، وَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، وَاجْتَنِبِ الطَّمَعَ فَإِنَّهُ فَقْرٌ حَاضِرٌ، وَالْزَمِ الْقَنَاعَةَ فَإِنَّهَا غِنًى لَا يَنْفَدُ، وَلَا تَقُلْ وَلَا تَفْعَلْ مَا تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا، وَافْعَلْ مَا تَرَاهُ حَقًّ
“Jika engkau hendak salat, perbaikilah wudumu. Salatlah seakan itu salat terakhirmu. Hindarilah ketamakan, karena tamak adalah kemiskinan yang nyata. Peganglah sifat qana’ah, karena itulah kekayaan sejati. Jangan berkata atau berbuat sesuatu yang membuatmu harus minta maaf. Lakukan yang menurutmu benar.”
Akhir Hayat
Sa’ad wafat pada tahun 55 H di Al-‘Aqiq dan dimakamkan di Madinah. Ia adalah sahabat terakhir dari kalangan Muhajirin yang wafat. Dengan meninggalnya, berakhir pula satu generasi terbaik umat ini — generasi yang berjuang langsung bersama Rasulullah ﷺ.
Pelajaran Kehidupan Sa‘ad bin Abi Waqqas radhiyallāhu ‘anhu
- Keimanan sejati berani memilih jalan sulit sejak awal
Sa‘ad masuk Islam di usia muda dan termasuk generasi pertama yang menjawab seruan tauhid tanpa ragu. - Keberanian lahir dari keyakinan, bukan sekadar kekuatan fisik
Ia menjadi sahabat pertama yang melepaskan panah di jalan Allah, selalu berdiri di barisan terdepan perjuangan. - Kemuliaan diraih dengan kepercayaan Rasulullah ﷺ
Doa Nabi ﷺ menjadikan panahnya tepat sasaran dan doanya mustajab—tanda kedudukan mulia di sisi Allah. - Kepemimpinan sejati dibangun oleh amanah dan ketakwaan
Sa‘ad memimpin kemenangan besar melawan Persia, bukan dengan kesombongan, tetapi dengan tanggung jawab dan takut kepada Allah. - Kekayaan hakiki adalah qana’ah dan hati yang bersih
Wasiatnya mengajarkan hidup sederhana, menjauhi tamak, menjaga amal, dan selalu memilih kebenaran.
💬 Tulis doa terbaikmu di kolom komentar dan bagikan sebagai amal jariyah - Website: www.mutiaratauhid.web.id
- Facebook: Mencintai Ahlul Bait | Dakwah Kebenaran
- Instagram: @jejaktauhid11
- TikTok: @dakwahsunnah011
- YouTube: Kembali ke Tauhid
- Likee: Hakikat Tauhid

