“Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidak berguna baginya hartanya dan apa yang telah diusahakannya. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.”
(QS. Al-Masad: 1–5)
Surah Al-Masad—juga dikenal dengan nama Surah Tabbat—adalah salah satu surah Makkiyah yang singkat namun penuh makna. Surah ini diturunkan sebagai teguran langsung dari langit kepada salah satu musuh terbesar dakwah Islam: Abu Lahab, paman Nabi Muhammad ﷺ.
Sebab Turunnya Surah
Surah ini turun sebagai respons terhadap hinaan Abu Lahab terhadap Nabi ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ mengumpulkan kaum Quraisy dan memperingatkan mereka tentang azab Allah, Abu Lahab justru menanggapi dengan cemoohan:
“Celaka engkau, wahai Muhammad! Apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?”
Ucapan itu mencerminkan penolakan terang-terangan terhadap kebenaran. Maka Allah pun menurunkan wahyu sebagai kecaman abadi terhadap Abu Lahab.
Penjelasan Kata-Kata Penting
تَبَّتْ Tabbat
Artinya: Binasalah, celakalah—sebuah kutukan kehancuran.
مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ Mā aghnā ‘anhu māluhu
Artinya: Hartanya tak mampu menyelamatkannya.
حَمَّالَةَ الْحَطَبِ Ḥammālata al-ḥaṭab
Artinya: Istrinya dikenal suka menebar fitnah dan menyakiti Nabi ﷺ, termasuk meletakkan duri di jalannya.
فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ Fī jīdihā ḥablun min masad
Artinya: Di akhirat, ia akan disiksa dengan tali dari sabut kasar, sebagai simbol kehinaan dan pembalasan.
Makna Umum
Surah ini adalah peringatan keras dari Allah Ta’ala terhadap arogansi, permusuhan terhadap dakwah, dan kekufuran yang keras kepala. Abu Lahab adalah contoh nyata orang yang menolak kebenaran meski ia sangat dekat secara nasab dengan Rasulullah ﷺ. Ia tidak hanya menolak, tetapi juga memprovokasi dan memerangi dakwah dengan harta dan pengaruhnya.
Istrinya, Ummu Jamil, ikut andil dalam permusuhan ini. Ia menyebarkan kebencian, mengadu domba, dan menyakiti Nabi dengan cara-cara yang keji. Maka Allah Ta’ala mengabadikan nasib mereka dalam Al-Qur’an—menjadi pelajaran bagi siapa pun yang menentang kebenaran.
Menariknya, selama lebih dari sepuluh tahun setelah turunnya ayat ini, Abu Lahab dan istrinya tetap tidak masuk Islam, bahkan tidak berpura-pura beriman. Ini adalah bukti nyata kebenaran nubuwwah Rasulullah ﷺ dan kemukjizatan Al-Qur’an.
Pelajaran yang dapat diambil:
- Kekuasaan, harta, dan keturunan tidak bisa menyelamatkan seseorang dari azab Allah, jika ia menolak iman dan membenci kebenaran.
- Peringatan terhadap siapa pun yang menyakiti para hamba Allah yang saleh dan para penyeru dakwah. Karena sikap seperti itu bisa mendatangkan kemurkaan Allah.
- Salah satu bukti kenabian Nabi Muhammad ﷺ, karena prediksi dalam surah ini benar-benar terbukti: Abu Lahab tidak pernah beriman hingga ajal menjemputnya, padahal ia bisa saja berpura-pura masuk Islam untuk menggugurkan isi surah ini—namun tidak terjadi.
Penutup
Surah Al-Masad bukan sekadar kisah tentang Abu Lahab. Ini adalah peringatan sepanjang zaman bagi siapa saja yang menyombongkan diri di hadapan kebenaran, dan merasa tidak butuh kepada Allah hanya karena merasa kuat atau kaya.
Sementara bagi orang beriman, surah ini mengingatkan bahwa pertolongan Allah selalu bersama mereka yang sabar dan setia di jalan dakwah, meskipun harus menghadapi orang sekuat Abu Lahab dan sekeras Ummu Jamil.

