Ketika kaum kafir quraisy melihat jumlah kaum muslimin terus bertambah dari hari ke hari, setiap kabilah menyerang kaum muslimin yang ada di dalamnya, menyiksa mereka, dan berusaha memalingkan mereka dari agama Islam. Para pemuka kaum musyrikin pun secara khusus menindas orang-orang beriman yang lemah. Dalam sebuah hadis dijelaskan;
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَوَّلُ مَنْ أَظْهَرَ إِسْلَامَهُ سَبْعَةٌ: رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، وَأَبُو بَكْرٍ، وَعَمَّارٌ، وَأُمُّهُ ُمَيَّةُ، وَصُهَيْبٌ، وَبِلَالٌ، وَالْمِقْدَادُ. فَأَمَّا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَمَنَعَهُ اللَّهُ بِعَمِّهِ أَبِي طَالِبٍ، وَأَمَّا أَبُو بَكْرٍ فَمَنَعَهُ اللَّهُ بِقَوْمِهِ، وَأَمَّا سَائِرُهُمْ فَأَخَذَهُمُ الْمُشْرِكُونَ، فَأَلْبَسُوهُمْ أَدْرَاعَ الْحَدِيدِ، وَصَهَرُوهُمْ فِي الشَّمْسِ. ( رواه أحمد وابن ماجه )
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Orang-orang pertama yang menampakkan keislamannya ada tujuh: Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, Ammar, ibunya (Sumayyah), Shuhaib, Bilal, dan Miqdad.
Adapun Rasulullah ﷺ, Allah melindunginya dengan pamannya, Abu Thalib. Abu Bakar dilindungi oleh kaumnya. Sedangkan yang lainnya ditangkap oleh kaum musyrikin, dipakaikan baju besi, dan dijemur di bawah terik matahari.”
(HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah).
Ammar bin Yasir dan kedua orang tuanya radhiyallahu ‘anhum termasuk di antara mereka yang disiksa dan mendapatkan penderitaan. Rasulullah ﷺ sering melewati mereka saat mereka disiksa.
Sebagaimana dalam hadis;عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ ﷺ بِآلِ يَاسِرٍ وَهُمْ يُعَذَّبُونَ، فَقَالَ: «صَبْرًا آلَ يَاسِرٍ، فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ.
Dari Khabbab bin Al-Arat radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi ﷺ melewati keluarga Yasir ketika mereka sedang disiksa, lalu beliau bersabda: “Bersabarlah, wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah surga.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Ḥākim (hadis hasan).
Pada suatu hari, Abu Jahal melewati Sumayyah ibu Ammar radhiyallahu ‘anha, saat ia sedang disiksa. Abu Jahal menikamnya dengan tombak di bagian kemaluannya hingga ia wafat. Sumayyah pun menjadi syahidah pertama dalam Islam. (Siyar A’lam An-Nubala).
Di antara mereka yang disiksa juga terdapat Khabbab bin Al-Arat radhiyallahu ‘anhu. Kaum musyrikin menyiksanya dengan kejam. Mereka menelanjangi punggungnya dari pakaian, kemudian melemparkannya ke bara api yang menyala. Bara itu hanya padam karena lemak yang mencair dari punggungnya. (Hilyatul Auliya’).
Begitu juga Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu, yang ketika penyiksaan semakin berat di bawah terik matahari yang membakar, ia terus mengucapkan, “Ahad, Ahad” (Allah yang Esa).
Dalam sebuah hadis.عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ بِلَالٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِذَا عُذِّبَ فِي اللَّهِ، يَقُولُ: «أَحَدٌ، أَحَدٌ»( رواه ابن ماجه )
Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Bilal radhiyallahu ‘anhu, apabila disiksa karena mempertahankan keimanannya kepada Allah, ia terus mengucapkan:“Ahad, Ahad.” (Allah Yang Maha Esa). (HR. Iimam Ibnu Majah). Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu kemudian membelinya dari Umayyah bin Khalaf, memerdekakannya, dan menyelamatkannya dari perbudakan dan siksaan.
Selain Bilal, Abu Bakar juga membeli beberapa budak lainnya yang disiksa, memerdekakan mereka, dan Allah menyelamatkan mereka melalui dirinya.
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga mendapat bagiannya dari penderitaan. Suatu hari, ia dipukuli dengan sangat kejam di Masjidil Haram hingga harus dibawa pulang ke rumahnya. Kaumnya bahkan hampir yakin bahwa ia akan meninggal dunia. (Al-Bidayah wan Nihayah).
Penyiksaan kaum musyrikin juga sampai kepada Nabi ﷺ. Mereka menyakiti beliau dengan berbagai cara, di antaranya dengan melemparkan kotoran dan darah unta ke pundaknya saat beliau sedang bersujud. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis;عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي عِنْدَ الْبَيْتِ، وَأَبُو جَهْلٍ وَأَصْحَابٌ لَهُ جُلُوسٌ، إِذْ قَالَ بَعْضُهُمْ: أَيُّكُمْ يَأْتِي بِسَلَا جَزُورِ بَنِي فُلَانٍ، فَيَضَعُهُ عَلَى ظَهْرِ مُحَمَّدٍ إِذَا سَجَدَ؟ فَانْبَعَثَ أَشْقَى الْقَوْمِ، فَجَاءَ بِهِ، فَنَظَرَ حَتَّى إِذَا سَجَدَ النَّبِيُّ ﷺ وَضَعَهُ عَلَى ظَهْرِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ. قَالَ: فَانْفَجَرُوا يَضْحَكُونَ، وَجَعَلَ بَعْضُهُمْ يَمِيلُ عَلَى بَعْضٍ مِنَ الضِّحْكِ…( رواه البخاري ومسلم )
Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan shalat di dekat Ka‘bah, Abu Jahal dan beberapa orang Quraisy duduk di sekitarnya. Salah seorang dari mereka berkata, “Siapa di antara kalian yang mau mengambil kotoran (isi perut) unta dari Bani Fulan, lalu meletakkannya di punggung Muhammad ketika ia sedang sujud?” Maka bangkitlah orang yang paling celaka di antara mereka, ia mengambil kotoran itu. Ketika Nabi ﷺ bersujud, ia meletakkannya di punggung beliau, tepat di antara kedua bahunya. Mereka pun tertawa terbahak-bahak dan saling bersandar satu sama lain karena tertawa. ( HR. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim )Pada suatu kesempatan, Uqbah bin Abu Mu’aith mendatangi Nabi ﷺ yang sedang salat di dekat Ka’bah. Ia meletakkan kain di leher Nabi ﷺ dan mencekiknya dengan kuat. Abu Bakar datang dan menyelamatkan Nabi ﷺ dengan mendorong Uqbah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis shahih;عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: بَيْنَمَا النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّي بِفِنَاءِ الْكَعْبَةِ، إِذْ أَقْبَلَ عُقْبَةُ بْنُ أَبِي مُعَيْطٍ، فَأَخَذَ بِمَنْكِبِ النَّبِيِّ ﷺ، وَلَوَى ثَوْبَهُ فِي عُنُقِهِ فَخَنَقَهُ بِهِ خَنْقًا شَدِيدًا، فَأَقْبَلَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَأَخَذَ بِمَنْكِبِهِ، فَدَفَعَهُ عَنْهُ، وَقَالَ:أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ؟ ( رواه البخاري )Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Ketika Nabi ﷺ sedang melaksanakan salat di sekitar Ka‘bah, datanglah ‘Uqbah bin Abi Mu‘aith. Ia memegang pundak Nabi ﷺ, lalu memutar kainnya ke leher beliau dan mencekiknya dengan sangat keras. Maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu datang, memegang pundak ‘Uqbah, mendorongnya hingga menjauh dari Nabi ﷺ, lalu berkata: “Apakah kalian hendak membunuh seseorang hanya karena ia berkata: ‘Rabbku adalah Allah’?” ( HR. Imam al-Bukhari )Meskipun menghadapi semua itu, Nabi ﷺ tetap bersabar, melanjutkan dakwahnya, dan berdiri teguh laksana gunung yang kokoh. Tidak ada siksaan yang dapat melemahkannya, dan tidak ada bujukan yang dapat menggoyahkan imannya.
Pelajaran yang dipetik:
1. Mukmin yang Kuat Lebih Dicintai AllahMukmin yang kuat dalam iman, semangat, dan usaha lebih dicintai Allah karena manfaatnya lebih luas bagi diri dan orang lain. Namun, mukmin yang lemah tetap memiliki kebaikan.
2. Wajib Berusaha dalam Hal yang BermanfaatIslam mendorong umatnya untuk semangat dalam mengejar hal-hal yang bermanfaat, baik untuk agama maupun kehidupan dunia.
3. Minta Pertolongan kepada Allah dan Jangan Putus AsaSeorang muslim harus selalu bergantung kepada Allah Ta’ala dalam segala urusan dan tidak boleh mudah menyerah atau malas.
4. Larangan Berkata “Seandainya”Jika mengalami kegagalan, jangan mengucapkan “Seandainya tadi…” karena itu hanya membuka pintu bisikan setan dan menambah penyesalan.
5. Ridha kepada Takdir Membawa KetenanganMenerima takdir Allah Ta’ala dengan lapang dada dapat menenangkan hati, mencegah stres, dan memperkuat iman.
🌐 Website: mutiaratauhid.web.id
📱 Facebook: Mencintai Ahlul Bait | Dakwah Kebenaran · TikTok: @dakwahsunnah011 · YouTube: Kembali ke Tauhid · Likee: Hakikat Tauhid · Instagram: @jejaktauhid11
💬 Tulis doa dan pelajaran yang kamu ambil, lalu bagikan sebagai amal jariyah

