Pada tahun kesepuluh kenabian, Rasulullah ﷺ menghadapi masa yang sangat berat. Enam bulan setelah berakhirnya pemboikotan Quraisy, Abu Thalib jatuh sakit. Penyakitnya semakin parah. Ia adalah pelindung utama Nabi ﷺ — sosok yang selama ini berdiri kokoh menghadang gangguan kaum musyrik.
Ketika Abu Thalib berada di penghujung hayat, Rasulullah ﷺ datang menemuinya. Di sisi pamannya itu hadir pula Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah. Dengan penuh kasih dan harapan, Nabi ﷺ berkata:
“Wahai pamanku, ucapkanlah La ilaha illallah, sebuah kalimat yang akan aku jadikan hujjah untuk membelamu di hadapan Allah.”
Namun tekanan kaum Quraisy begitu kuat. Mereka berkata:
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Muthalib?”
Kalimat itu terus diulang, hingga akhirnya Abu Thalib memilih tetap pada keyakinannya dan wafat dalam keadaan tersebut.
Rasulullah ﷺ sangat berduka. Kesedihan seorang keponakan yang mencintai pamannya, sekaligus kesedihan seorang Nabi yang menginginkan hidayah bagi orang terdekatnya.
Beliau ﷺ bersabda:
“Aku akan memohonkan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang.”
Namun Allah Ta’ala menurunkan ketetapan-Nya:
﴿ مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ﴾
“Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang beriman memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrik…” (At-Taubah: 113)
Dan Allah Ta’ala menegaskan:
﴿ إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴾
“Sungguh, engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Qashash: 56)
Ini adalah pelajaran agung tentang hidayah — bahwa ia sepenuhnya milik Allah Ta’ala.
Kesedihan Bertambah: Wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha
Belum kering air mata kesedihan itu, tiga bulan kemudian datang musibah berikutnya. Khadijah radhiyallahu ‘anha wafat.
Ia bukan sekadar istri.
Ia adalah penenang hati Nabi ﷺ.
Pendukung pertama dakwah.
Penguat di saat semua melemahkan.
Tempat kembali ketika dunia terasa sempit.
Khadijah berdiri di sisi Rasulullah ﷺ sejak awal risalah — ketika manusia mendustakan, ia membenarkan. Ketika manusia menjauh, ia mendekat. Ketika manusia menahan harta, ia mengorbankan segalanya.
Rasulullah ﷺ mengenangnya dengan penuh cinta:
قد آمَنَتْ بي إذ كفَرَ بي الناسُ، وصدَّقَتْني إذ كذَّبَني الناسُ، وواسَتْني بمالِها إذ حرَمَني الناسُ، ورزَقَني اللهُ عزَّ وجلَّ ولَدَها إذ حرَمَني أولادَ النِّساءِ.
“Dia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku. Dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku. Dia membantuku dengan hartanya ketika orang-orang menahannya. Dan Allah memberiku anak-anak darinya.” HR. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim
Pelajaran yang Menenangkan Jiwa
Tahun itu dikenal sebagai Tahun Kesedihan. Dua orang terdekat Rasulullah ﷺ wafat dalam waktu yang berdekatan. Pelindung di luar rumah, dan penenang di dalam rumah.
Namun di balik kesedihan besar itu, Allah Ta’ala sedang menyiapkan fase baru dakwah.
Karena sering kali:
Kesulitan adalah gerbang pertolongan.
Kesedihan adalah jalan menuju kemuliaan.
Dan ujian adalah tanda perhatian Allah kepada hamba-Nya.
Penutup Muhasabah
Jika manusia terbaik saja diuji dengan kehilangan yang begitu dalam, bagaimana mungkin kita berharap hidup tanpa kesulitan?
Jika Rasulullah ﷺ tetap sabar di tengah luka, bagaimana mungkin kita mudah berputus asa?
Perjalanan ini mengajarkan kita:
Bahwa hidayah bukan di tangan manusia.
Bahwa cinta tidak selalu berujung kebersamaan di dunia.
Bahwa kesedihan bukan tanda ditinggalkan Allah.
Maka ketika hidup terasa berat, ingatlah Tahun Kesedihan.
Dan yakinlah:
Allah tidak pernah mengambil sesuatu kecuali untuk menggantinya dengan yang lebih baik.

