Hijrah Kedua ke Habasyah: Ketika Iman Mencari Perlindungan

Ketika Rasulullah ﷺ melihat kerasnya penolakan kaum Quraisy dan semakin beratnya penyiksaan terhadap kaum Muslimin, beliau memberikan isyarat kepada para sahabat untuk kembali berhijrah ke Habasyah.

Pada hijrah kali ini, sekitar 83 laki-laki dan 17 perempuan meninggalkan Makkah. Mereka menuju negeri Habasyah, di bawah kepemimpinan Raja Najasyi — seorang raja yang dikenal adil. Di sana, kaum Muslimin disambut dengan baik, dihormati, dan diberikan perlindungan.

Namun, Quraisy tidak tinggal diam.

Mereka mengutus dua orang, ‘Abdullah bin Abi Rabi‘ah dan ‘Amr bin al-‘Ash, dengan membawa berbagai hadiah untuk membujuk Raja Najasyi agar mengusir kaum Muslimin. Tetapi keadilan tidak mudah dibeli. Raja Najasyi menolak permintaan tersebut.

Ketika cara itu gagal, Quraisy menempuh jalan fitnah.

Mereka menuduh kaum Muslimin memiliki keyakinan buruk tentang Nabi ‘Isa عليه السلام. Mendengar hal itu, Raja Najasyi memanggil kaum Muslimin untuk menjelaskan keyakinan mereka.

Ja‘far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tampil mewakili kaum Muslimin.

Dengan penuh ketenangan dan keyakinan, Ja‘far menjelaskan keadaan manusia sebelum Islam — tenggelam dalam kesyirikan, kezaliman, dan kerusakan akhlak. Ia lalu menggambarkan bagaimana Islam mengubah segalanya: mengajak kepada tauhid, kejujuran, amanah, kasih sayang, dan kemuliaan akhlak.

Kemudian Ja‘far membaca ayat-ayat awal Surah Maryam, yang mengisahkan kelahiran Nabi ‘Isa عليه السلام.

Suasana pun berubah.

Raja Najasyi tersentuh. Air mata mengalir. Kebenaran berbicara langsung kepada hati.

Beliau mengambil sebatang kayu kecil dari tanah dan berkata,

“Apa yang kalian katakan tentang ‘Isa tidak berbeda dengan apa yang kami yakini — bahkan tidak melebihi garis kayu ini.”

Lalu ia memberikan jaminan yang menenangkan,

“Pergilah. Kalian aman di negeriku. Siapa pun yang menyakiti kalian akan dikenakan hukuman.”

Kepada utusan Quraisy, Raja Najasyi berkata tegas,

“Demi Allah, sekalipun kalian memberiku gunung emas, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian.”

Hadiah-hadiah dikembalikan. Utusan Quraisy pulang dengan kecewa. Sementara kaum Muslimin tetap tinggal dalam keadaan aman dan dimuliakan.

Pelajaran yang Menguatkan Iman

Hijrah ini bukan sekadar perpindahan tempat. Ia adalah bukti bahwa:

Keimanan terkadang menuntut pengorbanan besar.
Kebenaran selalu memiliki pembela, bahkan dari arah yang tak disangka.
Dan keadilan akan selalu berpihak kepada kejujuran.

Ja‘far tidak menang dengan kekuatan, tetapi dengan kebenaran.
Kaum Muslim tidak selamat dengan harta, tetapi dengan iman.
Dan Allah menunjukkan bahwa pertolongan-Nya bisa datang melalui siapa saja yang Dia kehendaki.

Penutup Muhasabah

Berapa banyak di antara kita yang ingin meraih kemuliaan tanpa pengorbanan?
Berapa sering kita menginginkan pertolongan Allah tanpa kesabaran?

Hijrah ke Habasyah mengajarkan bahwa jalan iman tidak selalu mudah. Terkadang kita harus meninggalkan kenyamanan, menghadapi ketidakpastian, dan bersabar dalam tekanan.

Tetapi satu hal yang pasti:

Siapa yang menjaga agamanya, Allah akan menjaganya.
Siapa yang membela kebenaran, Allah akan menolongnya.
Siapa yang bertawakal, Allah tidak akan menyia-nyiakannya.

(Al-Bidayah wa An-Nihayah, 3/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights