Seiring berjalannya waktu, tekanan kaum musyrik terhadap kaum muslimin semakin keras dan tidak terkendali. Penyiksaan dilakukan secara terbuka dan kejam, terutama kepada para budak dan orang-orang yang tidak memiliki pelindung. Ada yang diseret di bawah terik matahari, ada yang dadanya ditindih batu besar hingga hampir tak sadarkan diri, dan ada pula yang disiksa dengan berbagai cara lain yang melampaui batas kemanusiaan.Dalam kondisi yang memilukan ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu tampil dengan ketulusan iman dan pengorbanan yang luar biasa. Setiap kali beliau melihat budak-budak yang disiksa karena keislaman mereka, beliau membelinya lalu memerdekakannya.
Di antara mereka adalah Bilal bin Rabah, ibunya Hamamah, ‘Amir bin Fuhairah, Ummu ‘Abs, Zunairah, An-Nahdiyah, serta putrinya.Ayahnya, Abu Quhafah, pernah menasihatinya, “Wahai anakku, aku melihat engkau membebaskan budak-budak yang lemah. Seandainya engkau membebaskan orang-orang yang kuat, tentu mereka dapat melindungimu.” Abu Bakar menjawab dengan penuh keteguhan,
“Wahai ayahku, aku hanya menginginkan apa yang aku inginkan.” Ketulusan niat inilah yang kemudian dipuji oleh Allah Ta‘ala melalui firman-Nya:
وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى
“Dan kelak akan dijauhkan dari neraka orang yang paling bertakwa, yaitu orang yang menginfakkan hartanya untuk membersihkan dirinya.”
(QS. Al-Lail: 17–18)
Melihat penderitaan para sahabatnya yang semakin berat, sementara kaum muslimin belum memiliki kekuatan untuk melawan, Rasulullah ﷺ memberikan arahan penuh hikmah. Beliau memerintahkan sebagian sahabatnya untuk berhijrah ke negeri Habasyah, sebuah negeri yang dipimpin oleh raja yang adil, di mana tidak seorang pun dizalimi. Hijrah ini dimaksudkan sebagai jalan keluar agar mereka dapat menyelamatkan agama dan iman mereka.
Maka berangkatlah sekelompok kecil kaum muslimin menuju Habasyah: sepuluh orang laki-laki dan lima orang perempuan. Mereka meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan harta benda, demi menjaga aqidah dan ketaatan kepada Allah. Orang pertama yang berhijrah karena Allah adalah Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu bersama istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ.
Hijrah pertama ini terjadi pada bulan Rajab, tahun kelima kenabian. Kaum muslimin tinggal di Habasyah selama sekitar tiga bulan. Setelah itu, mereka kembali ke Makkah karena mendengar kabar bahwa penduduknya telah masuk Islam. Namun, ketika mendekati kota Makkah, mereka mendapati kenyataan pahit: kabar tersebut tidak benar. Bahkan, tekanan dan penyiksaan terhadap Rasulullah ﷺ dan para pengikutnya justru semakin berat.Dalam keadaan tersebut, sebagian dari mereka memilih memasuki Makkah secara sembunyi-sembunyi, sebagian masuk dengan jaminan perlindungan dari tokoh Quraisy, dan sebagian lainnya kembali lagi ke Habasyah untuk melanjutkan hijrah mereka.
Peristiwa hijrah pertama ke Habasyah ini mengajarkan bahwa menjaga iman terkadang menuntut pengorbanan besar: meninggalkan tanah kelahiran, menghadapi keterasingan, dan bersabar di tengah ujian. Namun di balik semua itu, Allah Ta’ala selalu menyediakan jalan keluar bagi hamba-hamba-Nya yang tulus dan bertawakal.
Pelajaran Berharga dari Peristiwa Ini:
1. Menjaga Iman Lebih Utama daripada SegalanyaHijrah ke Habasyah menunjukkan bahwa keselamatan iman harus didahulukan, meski harus meninggalkan harta, keluarga, dan tanah kelahiran.
2. Islam Mengajarkan Mencari Jalan KeselamatanKetika kaum muslimin belum mampu melawan kezaliman, Rasulullah ﷺ mengajarkan solusi yang bijak: menghindar dari fitnah demi menjaga agama.
3. Ketulusan Pengorbanan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuAbu Bakar membebaskan budak-budak yang lemah semata-mata karena Allah, bukan demi keuntungan atau perlindungan, dan ketulusan ini dipuji langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an.
4. Pengorbanan Adalah Bukti Kejujuran ImanPara sahabat rela berhijrah, hidup terasing, dan menghadapi ketidakpastian demi ketaatan kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa iman sejati menuntut pengorbanan.
5. Allah Selalu Menyediakan Jalan KeluarHijrah ke Habasyah membuktikan bahwa di balik tekanan dan ujian, Allah selalu membuka jalan keselamatan bagi hamba-hamba-Nya yang sabar dan bertawakal.
🌐 Website: mutiaratauhid.web.id
Facebook: Mencintai Ahlul Bait | Dakwah Kebenaran
TikTok: @dakwahsunnah011
YouTube: Kembali ke Tauhid
Likee: Hakikat Tauhid
Instagram: @jejaktauhid11
💬 Tulis doa dan pelajaran yang kamu ambil, lalu bagikan sebagai amal jariyah

