Suatu hari, Abu Jahal—tokoh utama penentang dakwah dan yang dijuluki Fir‘aun umat ini—melewati Rasulullah ﷺ di sekitar Bukit Shafa. Dengan penuh kebencian, ia mencaci maki dan menyakiti Nabi ﷺ, sementara Rasulullah tetap bersabar dan tidak membalas perlakuan tersebut. Bahkan, Abu Jahal melemparkan batu hingga melukai kepala Rasulullah ﷺ dan menyebabkan darah mengalir.
Peristiwa ini sampai kepada Hamzah bin ‘Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, paman Rasulullah ﷺ, ketika ia baru pulang dari berburu. Dengan kemarahan yang membara dan tanpa menghiraukan siapa pun, Hamzah langsung mendatangi Abu Jahal. Ia berkata dengan lantang, “Apakah engkau mencaci maki keponakanku, padahal aku berada di atas agamanya?” Lalu Hamzah memukul kepala Abu Jahal dengan busurnya hingga terluka parah.(Hilyah al-Auliya’, 2/673)
Pada awalnya, keislaman Hamzah didorong oleh semangat kekerabatan dan pembelaan terhadap kehormatan keluarga. Namun tidak lama kemudian, Allah melapangkan dadanya untuk menerima Islam dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Sejak saat itu, kaum muslimin merasakan kekuatan baru. Keberanian Hamzah membuat kaum musyrik menahan sebagian kezaliman mereka terhadap kaum beriman.
Tiga hari setelah keislaman Hamzah, peristiwa besar lainnya terjadi. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu keluar dari rumahnya dengan pedang terhunus, berniat membunuh Nabi Muhammad ﷺ. Di tengah perjalanan, ia bertemu seorang laki-laki yang bertanya, “Ke mana engkau hendak pergi, wahai Umar?” Umar menjawab, “Aku hendak membunuh Muhammad.” Orang itu berkata, “Mengapa engkau tidak mengurus perkara yang lebih dekat? Sesungguhnya saudaramu dan suaminya, Sa‘id bin Zaid, telah masuk Islam.”Mendengar kabar tersebut, Umar segera mengubah arah langkahnya. Dengan amarah yang meluap, ia menuju rumah saudarinya. Saat itu, di dalam rumah terdapat Khabbab bin al-Aratt radhiyallahu ‘anhu yang sedang membacakan ayat-ayat Surah Thaha dari sebuah lembaran.
Umar mendengar bacaan itu lalu mengetuk pintu dengan keras. Setelah masuk, ia berkata kepada Sa‘id, “Apakah kalian telah meninggalkan agama kalian?” Sa‘id menjawab dengan tenang, “Bagaimana jika kebenaran justru ada pada agama selain agamamu?” Mendengar itu, Umar menyerang dan memukul Sa‘id. Saudarinya berusaha melindungi suaminya, namun Umar menamparnya hingga wajahnya berdarah.
Pemandangan darah di wajah saudarinya mengguncang hati Umar. Amarahnya mulai mereda dan jiwanya tersentuh. Ia berkata, “Berikan kepadaku lembaran yang kalian baca itu.” Namun mereka menolak sebelum Umar mandi dan menyucikan diri. Setelah itu, Umar membaca ayat-ayat tersebut dengan penuh perhatian.
Saat Khabbab mendengar bacaan Umar, ia keluar dan berkata, “Bergembiralah, wahai Umar. Aku berharap doa Rasulullah ﷺ untukmu telah dikabulkan, sebagaimana disebutkan dalam hadis; عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ: بِأَبِي جَهْلِ بْنِ هِشَامٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّا ( رواه الترمذي، رقم 3681 )
“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang ini yang lebih Engkau cintai: Abu Jahal bin Hisyam atau Umar bin al-Khattab.” (HR. Imam At-Tirmidzi, no. 3681)
Setelah itu, Umar menuju tempat Rasulullah ﷺ berada. Di hadapan beliau, Umar menyatakan keislamannya dengan penuh keyakinan. Para sahabat yang hadir bertakbir dengan suara keras hingga gema takbir terdengar sampai ke Masjidil Haram. Saat itu, Umar berusia sekitar 26 tahun.
Keislaman Umar radhiyallahu ‘anhu menjadi titik balik yang sangat menentukan bagi kaum muslimin. Ibn Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata,“Keislaman Umar adalah pembuka jalan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kepemimpinannya adalah rahmat. Demi Allah, kami tidak mampu shalat di sekitar Ka‘bah secara terang-terangan hingga Umar masuk Islam. Ia menghadapi kaum musyrik hingga mereka membiarkan kami shalat.” (Al-Bidayah wa an-Nihayah, 3/79)
Keislaman Hamzah dan Umar radhiyallahu ‘anhuma menunjukkan bahwa hidayah Allah mampu mengubah kekuatan yang sebelumnya memusuhi Islam menjadi benteng kokoh bagi agama ini. Dari keduanya, umat belajar bahwa keteguhan iman, ketika bertemu dengan hidayah, akan melahirkan keberanian, pengorbanan, dan kemuliaan.
Pelajaran yang dipetik:
1. Hidayah Allah Dapat Mengubah Musuh Menjadi Pembela IslamHamzah dan Umar sebelumnya termasuk penentang keras Islam, namun dengan hidayah Allah mereka berubah menjadi pelindung dan pembela agama.
2. Pembelaan terhadap Kebenaran adalah Sifat MuliaKeislaman Hamzah berawal dari pembelaan terhadap kehormatan Rasulullah ﷺ, lalu disempurnakan dengan iman yang ikhlas.
3. Al-Qur’an Menyentuh Hati yang Paling KerasAyat-ayat Surah Thaha melunakkan hati Umar dan menjadi sebab masuk Islamnya, menunjukkan kekuatan Al-Qur’an dalam memberi hidayah.
4. Doa Nabi ﷺ Memiliki Kedudukan BesarMasuk Islamnya Umar adalah jawaban dari doa Rasulullah ﷺ, mengajarkan pentingnya doa dalam perjuangan dakwah.
5. Keislaman Tokoh Kuat Menguatkan DakwahDengan masuk Islamnya Hamzah dan Umar, kaum muslimin mendapatkan keberanian untuk beribadah secara terang-terangan dan dakwah Islam memasuki fase baru yang lebih kuat.
🌐 Website: mutiaratauhid.web.id📱 Facebook: Mencintai Ahlul Bait | Dakwah Kebenaran · TikTok: @dakwahsunnah011 · YouTube: Kembali ke Tauhid · Likee: Hakikat Tauhid · Instagram: @jejaktauhid11
💬 Tulis doa dan pelajaran yang kamu ambil, lalu bagikan sebagai amal jariyah

