Agama Islam adalah agama yang memuliakan kebersihan, adab, dan rasa malu. Islam mengajarkan sejumlah adab ketika buang hajat sebagai pembeda manusia dari makhluk lain. Berikut adalah adab-adabnya:
Hal-Hal yang Disunnahkan
1. Saat Masuk Kamar Mandi:
- Mendahulukan kaki kiri.
- Membaca doa:
بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Bismillah, Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khaba’its.”
(“Dengan nama Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gangguan jin laki-laki dan perempuan.”)
(HR. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim)
- Doa ini (Bismillah) juga melindungi aurat manusia dari pandangan jin.
(HR. Imam Tirmidzi no. 606)
2. Saat Keluar Kamar Mandi:
- Mendahulukan kaki kanan.
- Membaca doa:
غُفْرَانَكَ
“Ya Allah, ampunilah aku.”
(HR. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim)
3. Di Tempat Terbuka:
- Menjauh dari pandangan orang lain.
- Tidak menghadap atau membelakangi kiblat.
Dari sahabat Nabi Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
نَهَىٰ رَسُولُ ٱللَّهِ ﷺ أَنْ يُسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةُ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ، أَوْ أَنْ يُسْتَدْبَرَهَا
“Rasulullah ﷺ melarang menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang air besar atau kecil.”
(HR. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim)
- Berlindung di balik tembok, pohon, atau penutup lainnya.
Nabi ﷺ ketika buang hajat selalu menjauh hingga tidak terlihat.
(HR. Imam Abu Dawud)
Istinja’ dan Istijmar
Membersihkan diri setelah buang hajat adalah kewajiban. Dalam Islam, ada dua cara bersuci yang diajarkan:
1. Istinja’
Membersihkan najis dengan air.
2. Istijmar
Membersihkan najis dengan benda kering seperti batu atau tisu.
- Minimal dengan tiga batu jika tidak ada air, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Bersihkanlah dirimu dengan tiga batu, itu sudah mencukupi.”
(HR. Imam Ahmad dan Daruqutni)
- Namun, menggunakan air lebih baik.
Hukum-Hukum Istijmar
1. Jumlah Usapan:
- Minimal tiga kali usapan. Jika belum bersih, tambahkan hingga bersih.
- Disunnahkan mengakhiri dengan jumlah ganjil, seperti tiga atau lima kali usapan.
2. Larangan:
- Tidak boleh menggunakan benda yang dihormati, seperti tulang, kotoran hewan, atau kertas bertuliskan nama Allah.
Dari sahabat Nabi Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ، وَأَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالرَّوْثِ أَوِ الْعَظْمِ
“Rasulullah ﷺ melarang kami bersuci (istinja’) dengan kurang dari tiga batu, dengan kotoran hewan atau tulang.”
(HR. Imam Muslim)
Pelajaran Penting
- Kebersihan bukan sekadar fisik, tapi bentuk ketakwaan yang melindungi dari azab.
Rasulullah ﷺ bersabda: تَنَزَّهُوا مِنَ الْبَوْلِ، فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ
“Bersihkanlah dirimu dari (najis) kencing, karena sesungguhnya mayoritas azab kubur disebabkan olehnya.”
(HR. Imam Daruqutni dan dishahihkan oleh Syaikh Albani)
- Islam tidak hanya menjaga tubuh, tapi juga memuliakan akhlak — termasuk saat di tempat tersembunyi.
- Bersuci bukan sekadar rutinitas, tapi ibadah yang menuntut kesungguhan, sesuai tuntunan Nabi ﷺ.
Semoga kita senantiasa menjaga kebersihan dan menjalankan adab-adab yang diajarkan Islam dalam setiap aspek kehidupan.

