Siwak adalah salah satu sunnah yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Tidak kurang dari seratus hadis menunjukkan keutamaannya. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga kebersihan mulut bukan hanya perkara kesehatan, tetapi juga bagian dari ibadah yang mendatangkan pahala.

Nabi Muhammad ﷺ begitu mencintai siwak dan sangat menjaganya. Bahkan beliau pernah bersabda:

«لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ -أَوْ: عَلَى أُمَّتِي- لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ».
“Seandainya tidak memberatkan kaum mukmin—atau: umatku—niscaya aku akan memerintahkan mereka bersiwak setiap kali shalat.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa siwak sangat dianjurkan, sampai-sampai Nabi ﷺ hampir mewajibkannya karena besarnya manfaat dan kedudukan sunnah ini.

Dalam hadis lain, beliau ﷺ bersabda:

«السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ».
“Siwak membersihkan mulut dan mendatangkan ridha Allah.”
(HR. al-Bukhari)


Waktu-Waktu Utama Bersiwak

Berikut adalah beberapa waktu utama dan kondisi yang sangat dianjurkan untuk bersiwak:

  1. Saat Berwudhu
    Siwak dianjurkan sebelum berkumur, agar air wudhu menyentuh mulut dalam keadaan bersih. Nabi ﷺ hampir mewajibkan siwak setiap kali berwudhu jika bukan karena khawatir akan memberatkan umatnya.
  2. Sebelum Shalat
    Siwak dianjurkan baik sebelum shalat wajib maupun sunnah, karena kebersihan dan kesegaran mulut menunjukkan kehormatan dalam menghadap Allah. Ini termasuk bentuk penyempurnaan ibadah.
  3. Saat Membaca Al-Qur’an
    Disunnahkan untuk membersihkan mulut sebelum membaca kalam Allah, karena lisan yang suci lebih pantas digunakan untuk tilawah.
  4. Ketika Bangun Tidur
    Tidur dapat menyebabkan mulut mengering dan menimbulkan bau tidak sedap. Dari Ḥużaifah raḍiyallāhu ‘anhu diriwayatkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ.
“Nabi ﷺ apabila bangun di malam hari, beliau menggosok mulutnya dengan siwak.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

  1. Saat Masuk Rumah atau Masjid
    Syuraiḥ bin Hāni` meriwayatkan:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ، قُلْتُ: بِأَيِّ شَيْءٍ كَانَ يَبْدَأُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ؟ قَالَتْ: بِالسِّوَاكِ.
“Aku pernah bertanya kepada Aisyah, ‘Apa yang pertama kali dilakukan oleh Nabi ﷺ ketika masuk rumahnya?’ Aisyah menjawab, ‘Bersiwak.’”
(HR. Muslim)

  1. Ketika Mulut Terasa Tidak Segar
    Misalnya setelah diam terlalu lama, makan makanan beraroma kuat, atau ketika gigi mulai menguning. Semua ini adalah waktu yang cocok untuk menyegarkan mulut dengan siwak.

Cara Bersiwak yang Dianjurkan

  • Siwak yang paling utama adalah dari kayu pohon arak. Jenis ini digunakan langsung oleh Nabi ﷺ karena seratnya lembut, tidak merusak gusi, dan memiliki aroma alami yang segar.
  • Jika tidak ada siwak kayu, membersihkan mulut dengan sikat gigi dan pasta gigi bisa menjadi alternatif. Meski begitu, menggunakan siwak dari kayu arak tetap lebih utama karena mengikuti contoh Nabi ﷺ secara langsung.
  • Dalam kondisi tidak ada alat apa pun, mencukupkan dengan menggosok gigi menggunakan jari juga dibolehkan. Hal ini karena Rasulullah ﷺ pernah pula membersihkan gigi beliau dengan jari ketika berwudhu, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

Penutup

Siwak adalah amalan kecil yang ringan, murah, dan mudah dilakukan, tetapi pahalanya besar di sisi Allah. Ia bukan sekadar alat kebersihan, melainkan ibadah yang mendatangkan ridha-Nya.

Menjaga siwak berarti menjaga sunnah Nabi ﷺ, menjaga kebersihan diri, dan menjaga kualitas ibadah.

Mari hidupkan sunnah ini dalam kehidupan harian kita—terutama menjelang wudhu, shalat, dan tilawah Al-Qur’an—karena sunnah yang terus dijaga akan mengangkat derajat pelakunya di sisi Allah Ta’ala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights