Penyusuan

Keluarga bangsawan Quraisy memiliki tradisi mengirim anak-anak mereka ke pedalaman agar mereka belajar bahasa Arab yang fasih dan terhindar dari penyakit kota. Aminah, ibu Nabi ﷺ, ingin melakukan hal yang sama untuk putranya.

Seorang wanita dari Bani Sa’d bernama Halimah as-Sa’diyah kemudian mengambil Nabi ﷺ untuk disusui. Kehadiran Nabi ﷺ membawa keberkahan bagi Halimah dan keluarganya.

Nabi ﷺ tinggal bersama Halimah hingga usia empat tahun. Pada masa itu, Jibril ‘alaihissalam datang, membelah dada beliau, mengeluarkan hatinya, mencucinya, dan membersihkannya dari bagian setan. (HR. Imam Muslim, no. 162)

Wafatnya Ibunya

Setelah kembali dari Bani Sa’d, Nabi ﷺ tinggal bersama ibunya, Aminah, di Mekah. Saat Nabi ﷺ berusia enam tahun, Aminah membawanya ke Madinah untuk mengunjungi keluarga dari pihak ayahnya.

Namun, dalam perjalanan pulang, Aminah jatuh sakit dan meninggal di Abwa, meninggalkan Nabi ﷺ dalam keadaan yatim piatu. Ayah beliau telah wafat sebelum kelahirannya, dan kini beliau kehilangan ibunya.

Asuhan oleh Kakeknya

Setelah wafatnya Aminah, kakek Nabi ﷺ, Abdul Muthalib, mengambil tanggung jawab mengasuhnya. Abdul Muthalib sangat menyayangi Nabi ﷺ dan memperlakukannya dengan penuh perhatian.

Namun, kasih sayang itu tidak berlangsung lama. Ketika Nabi ﷺ berusia delapan tahun, Abdul Muthalib juga meninggal dunia.

Asuhan oleh Pamannya

Sebelum wafat, Abdul Muthalib menyerahkan pengasuhan Nabi ﷺ kepada pamannya, Abu Talib, yang menjalankan tugas ini dengan baik meskipun hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit.

Abu Talib mencintai Nabi ﷺ dengan tulus, bahkan sering mengutamakannya daripada anak-anaknya sendiri. Kehadiran Nabi ﷺ membawa keberkahan bagi keluarga Abu Talib.

Diriwayatkan bahwa ketika anak-anak Abu Talib makan tanpa Nabi ﷺ, mereka tidak merasa kenyang. Namun, ketika Nabi ﷺ makan bersama mereka, semua merasa kenyang. Abu Talib pun berkata:
“Sesungguhnya engkau adalah sosok yang diberkahi.” (Dalail al-Nubuwwah lil-Bayhaqi, 20/2)

Pelajaran dari Masa Kecil Nabi

  1. Berawal dari Kesulitan:
    Kehidupan Nabi ﷺ dimulai dengan penuh ujian, seperti kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil. Hal ini mengajarkan ketabahan dan kepercayaan pada rencana Allah Subhana wa Ta’ala.
  2. Keberkahan Kehadiran Nabi ﷺ:
    Kehadiran beliau selalu membawa keberkahan bagi orang-orang di sekitarnya, bahkan sejak masa kecil.
  3. Cinta dan Pengorbanan Abu Thalib:
    Abu Thalib menunjukkan pentingnya tanggung jawab dan kasih sayang dalam mengasuh anak-anak, meskipun dalam keterbatasan.
  4. Persiapan untuk Masa Depan:
    Ujian yang dihadapi Nabi ﷺ sejak kecil mempersiapkannya untuk menjadi pemimpin yang sabar dan penuh kasih sayang.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari perjalanan hidup Nabi ﷺ dan menjadikannya teladan dalam menghadapi berbagai ujian hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights