Di Gaza: Ketika Gerbang Rumah Sakit Menjadi Panggung Kematian

Di Gaza, gerbang Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa dahulu menjadi jalan menuju impian bagi kami, para mahasiswa kedokteran. Namun kemarin, gerbang itu berubah menjadi panggung kematian.

Muhammad, mahasiswa kedokteran tingkat empat di Universitas Al-Azhar Gaza, datang ke rumah sakit untuk menjalani praktik klinik. Namun, tanpa diduga, ia justru berakhir di meja operasi sebagai pasien.

Saat itu Muhammad sedang berdiri bersama teman-temannya di dekat gerbang rumah sakit. Hanya dalam hitungan detik, ledakan dahsyat mengguncang kawasan rumah sakit yang selama ini menjadi tempat berlindung bagi para pasien dan tenaga medis.

Takdir membawa Muhammad berhadapan langsung dengan serpihan ledakan. Beberapa pecahan mengenai tubuhnya sehingga ia mengalami luka paling serius dibandingkan teman-temannya yang lain.

Setelah menjalani pemeriksaan CT Scan, tim medis memutuskan bahwa Muhammad harus segera menjalani operasi darurat.

Selama operasi berlangsung, raut wajah keluarganya dipenuhi kepedihan dan kecemasan. Sementara itu, para mahasiswa menunggu dengan penuh harap sambil terus menanyakan kondisi teman mereka.

Setelah lebih dari dua jam yang dipenuhi doa dan harapan, operasi akhirnya berhasil dilakukan. Segala puji bagi Allah.

Peristiwa itu kembali membuka satu lembar kisah dari tragedi kemanusiaan di Gaza—lembar yang sering kali dilupakan atau diabaikan.

Tentang Gaza, dunia memilih diam. Banyak pihak berbicara tentang gencatan senjata, sementara berbagai pelanggaran terhadap gencatan tersebut terus terjadi. Berbagai data dan laporan yang terdokumentasi menunjukkan betapa mengerikannya kenyataan yang dihadapi warga Gaza. Semua itu memperlihatkan besarnya penderitaan yang masih terus berlangsung.

Di Gaza, kami tidak pernah terbiasa dengan kematian ataupun ketakutan. Kami bukan sekadar angka dalam laporan statistik. Setiap orang memiliki kisahnya sendiri, memiliki keluarga, impian, dan luka yang berbeda.

Bertahan hidup bukan berarti kami baik-baik saja. Melawan keputusasaan bukan berarti luka akibat perang telah sembuh.

Kami hanya terus menguatkan diri, berusaha menghadapi kenyataan yang terasa mustahil dengan kesabaran yang telah letih, serta tetap menggantungkan harapan kepada Allah, seraya memohon agar harapan itu tidak pernah dikecewakan.

Sumber; Quds News Network

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights