Ramallah – Insiden yang terjadi di Desa Tal, sebelah selatan Nablus, disebut menyoroti bagaimana media dan kalangan politik Israel membentuk narasi yang dinilai menyudutkan warga Palestina, termasuk ketika mereka disebut sedang membela diri. Menurut laporan ini, narasi tersebut kemudian digunakan untuk membenarkan eskalasi tindakan militer dan mempercepat perluasan permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki.
Rekaman video yang beredar memperlihatkan bahwa Farouq Ramadan, warga Palestina yang kemudian tewas dalam insiden tersebut, disebut tidak memulai serangan. Dalam laporan ini disebutkan bahwa ia merebut senjata seorang tentara Israel saat bentrokan terjadi setelah para pemukim Israel memasuki desa dengan pengawalan pasukan Israel.
Jurnalis Al Jazeera, Najwan Samri, mengatakan bahwa sejumlah media berbahasa Ibrani hanya menayangkan bagian video yang memperlihatkan Ramadan memegang senjata, tanpa menampilkan rekaman yang menunjukkan awal kejadian maupun serangan yang mendahuluinya.
Menurut Samri, Ramadan berada dalam situasi yang mengancam keselamatan dirinya dan tanah tempat tinggalnya. Ia menyebut insiden tersebut terjadi di tengah rangkaian serangan yang telah berulang kali dilakukan para pemukim di wilayah itu selama beberapa bulan terakhir. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Ramadan mengambil senjata itu sebagai upaya membela diri setelah merasa terancam.
Laporan ini menyatakan bahwa peristiwa di Desa Tal mencerminkan situasi yang kerap dihadapi warga Palestina di Tepi Barat, yaitu mereka tetap menghadapi tuduhan secara politik maupun media meskipun disebut sedang berusaha melindungi diri dari serangan para pemukim.
Narasi yang Dinilai Dipotong
Samri mengatakan bahwa sejak awal insiden, media Israel mengadopsi versi resmi pemerintah dengan menampilkan satu gambar Ramadan yang sedang memegang senjata. Berdasarkan gambar tersebut, ia diberitakan sebagai “penyerang” atau “pelaku serangan”, tanpa menampilkan rekaman sebelumnya yang memperlihatkan bentrokan serta aksi para pemukim yang dikawal pasukan Israel.
Ia menilai pola pemberitaan seperti itu bukan hanya terjadi dalam kasus Desa Tal, tetapi merupakan pendekatan yang berulang, yakni mengubah pihak yang disebut sebagai korban menjadi pihak yang dituduh. Menurutnya, hal tersebut bertujuan membangun pembenaran di hadapan publik Israel maupun masyarakat internasional untuk mengambil langkah-langkah yang lebih keras terhadap warga Palestina.
Dugaan “Tembakan Kawan Sendiri”
Dalam perkembangan terbaru, Samri mengutip laporan Lembaga Penyiaran Israel yang menyebut hasil penyelidikan militer mengarah pada kemungkinan bahwa tentara Israel yang tewas dalam insiden tersebut justru terkena tembakan dari sesama tentara Israel (friendly fire), bukan ditembak oleh warga Palestina sebagaimana narasi yang sebelumnya beredar.
Ia juga menyebut bahwa harian Haaretz sejak hari pertama telah mengemukakan kemungkinan tersebut. Namun, menurutnya, sebagian besar media Israel tetap mempertahankan pemberitaan yang menyalahkan warga Palestina atas kematian tentara tersebut dan baru kemudian mengakui adanya kemungkinan lain setelah beberapa hari berlalu.
Insiden Digunakan untuk Memperluas Permukiman
Menurut laporan ini, dampak insiden tersebut tidak berhenti pada pemberitaan media. Samri mengatakan bahwa otoritas Israel kemudian menggunakannya sebagai alasan untuk meningkatkan tindakan terhadap warga Palestina, termasuk menargetkan keluarga Farouq Ramadan, merobohkan sejumlah rumah di Desa Tal, serta melakukan operasi militer di beberapa kota dan desa di Tepi Barat.
Laporan itu juga menyebut bahwa peristiwa tersebut dijadikan dasar untuk mempercepat proyek perluasan permukiman. Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, diumumkan mengusulkan rencana memperluas permukiman Eli, di utara Ramallah, hingga tiga kali lipat serta membangun ratusan unit permukiman baru.
Selain itu, Samri mengatakan bahwa para pemukim memanfaatkan dukungan politik dan keamanan untuk mendirikan fakta baru di lapangan. Sejak Jumat lalu, menurutnya, telah didirikan delapan pos permukiman baru, yang sebagian besar berada di atas lahan milik warga Palestina.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Palestina, sejak awal tahun ini sebanyak 86 warga Palestina dilaporkan tewas di Tepi Barat yang diduduki, termasuk 21 orang yang disebut meninggal akibat tembakan para pemukim Israel.
Sumber; Quds News Network

