Hari ketika Israel Terkecoh oleh Operasi Penipuan Strategis Paling Rumit

Tidak pernah terlintas dalam benak saya bahwa saya akan menulis pada peringatan 1.000 hari agresi, perlawanan, tragedi, dan kepahlawanan, sementara perang itu sendiri belum berakhir dan pembantaian masih terus berlangsung.

Operasi Thufan Al-Aqsa yang dimulai pada 7 Oktober masih terus meninggalkan babak-babak baru. Gempa politik dan militer yang dipicunya terus bergeser dari satu medan ke medan lainnya. Guncangan susulannya masih terasa hingga ke kawasan Timur Tengah dan masyarakat internasional, melahirkan perubahan besar dalam peta politik, cara pandang, dan narasi yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Saya masih mengingat sebuah pertemuan dengan seorang petinggi Hamas tidak lama setelah 7 Oktober. Saat itu saya bertanya apakah Brigade Al-Qassam benar-benar telah mempersiapkan diri menghadapi perang yang mungkin berlangsung selama tiga bulan di Jalur Gaza.

Jawabannya penuh keyakinan.

“Ya, kami telah mempersiapkan diri untuk menghadapi perang yang bisa berlangsung enam bulan, bukan hanya tiga bulan.”

Ucapan itu mendorong saya menulis dan menyampaikan pandangan bahwa Hamas bukanlah sekadar terowongan yang bisa dihancurkan dengan bom atau bangunan yang dapat diratakan begitu saja. Menghancurkan fasilitas-fasilitas itu tidak serta-merta mengakhiri Hamas maupun perlawanan Palestina, lalu membuka apa yang disebut sebagai “era Israel” yang baru.

Tak seorang pun di dunia—baik melalui pernyataan resmi, bocoran informasi, maupun analisis—yang memperkirakan bahwa operasi Thufan Al-Aqsa beserta perang yang menyusulnya akan berlangsung selama ini. Tidak ada yang membayangkan bahwa ketahanan dan perlawanan Palestina akan bertahan sejauh ini, ataupun bahwa tingkat kekerasan dan kebrutalan perang akan mencapai titik yang sedemikian mengerikan.

Semua itu berada di luar perkiraan, baik bagi mereka yang melancarkan operasi tersebut maupun pihak-pihak lainnya.

Meski demikian, kini muncul sebagian orang yang mengklaim bahwa mereka telah memprediksi semua ini sejak awal. Ada pula kelompok yang selalu terpesona dengan keunggulan militer Israel dan berusaha menampilkan diri sebagai pihak yang paling memahami situasi. Mereka menyebut sikap mereka sebagai bentuk rasionalitas, padahal sesungguhnya hanya membaca peristiwa setelah semuanya terjadi.

Selama seribu hari lebih, Gaza terus mengirimkan pesan kepada dunia. Pesan itu menghadirkan dua gambaran yang tidak dapat dipisahkan jika ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Gambaran pertama adalah kepahlawanan dan perlawanan luar biasa yang dilakukan rakyat Palestina menghadapi musuh yang memiliki persenjataan modern dan kekuatan militer besar.

Gambaran kedua adalah bencana kemanusiaan yang menimpa Jalur Gaza beserta seluruh penduduknya.

Sebagian orang hanya melihat sisi kedua. Mereka terus berbicara tentang penderitaan kemanusiaan tanpa pernah mengakui keberadaan perlawanan Palestina. Menurut penulis, sikap tersebut bukan semata-mata lahir dari rasa kemanusiaan, melainkan juga dari sikap menyerah dan kehilangan keberanian.

Di sisi lain, ada pula yang hanya melihat sisi kepahlawanan sambil menutup mata terhadap penderitaan jutaan warga Gaza. Mereka merangkum seluruh tragedi itu dalam slogan-slogan revolusioner yang sederhana, seolah satu kalimat heroik sudah cukup menggambarkan penderitaan yang dialami masyarakat selama lebih dari seribu hari.

Bagi penulis, Gaza kini telah menjadi simbol perjuangan seluruh rakyat Palestina selama lebih dari satu abad. Bahkan, Gaza juga telah menjelma menjadi simbol bagi orang-orang yang memperjuangkan kebebasan dan keadilan di berbagai penjuru dunia.

Di berbagai negara, setiap kali terlihat spanduk yang mengecam genosida dan menyatakan solidaritas kepada Gaza, hal itu menunjukkan bahwa Palestina tidak lagi sekadar persoalan lokal atau regional. Isu Palestina telah menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan global yang lebih luas, yang menentang ekstremisme, rasisme, diskriminasi, dan berbagai bentuk penindasan.

Menurut penulis, perjuangan rakyat Palestina kini telah berkembang menjadi simbol perjuangan universal untuk kebebasan, keadilan, dan martabat manusia.

Benar atau Salah, Untung atau Rugi

Dalam menilai untung dan rugi dari Operasi Thufan Al-Aqsa, menurut penulis, pertanyaan yang paling penting bukanlah apakah operasi tersebut mendekatkan atau justru menjauhkan rakyat Palestina dari solusi dua negara (two-state solution). Ia berpendapat bahwa sebagian besar rakyat Palestina sejak lama telah menyadari bahwa solusi tersebut lebih merupakan ilusi daripada jalan keluar yang nyata.

Menurutnya, gagasan itu hanya memberi Israel waktu untuk menyelesaikan agendanya sendiri, yaitu memperkuat pendudukan dan menggagalkan berdirinya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.

Penulis menilai keyakinan tersebut telah ada sebelum 7 Oktober dan semakin menguat setelah perang berlangsung. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah setelah perang ini rakyat Palestina akan melanjutkan perjuangannya dari posisi yang lebih kuat atau justru lebih lemah.

Menurutnya, sebagian besar warga Palestina tidak lagi melihat adanya solusi politik yang nyata dalam waktu dekat, kecuali solusi yang sepenuhnya mengikuti kehendak Israel dan mengabaikan tuntutan dasar rakyat Palestina. Penulis juga berpendapat bahwa tanda-tanda menuju skenario tersebut mulai terlihat melalui berbagai perubahan yang dilakukan Otoritas Palestina terhadap struktur politik Palestina.

Evaluasi terhadap Perhitungan Hamas

Dalam bagian ini, penulis menilai bahwa Hamas melakukan sejumlah kekeliruan dalam perhitungannya.

Ia menyebut Hamas sebelumnya berharap akan terjadi pemberontakan besar di Tepi Barat dan kebangkitan warga Palestina di wilayah pendudukan tahun 1948, sebagaimana yang terjadi pada peristiwa “Saif al-Quds” tahun 2021. Harapan itu juga didasarkan pada munculnya kelompok-kelompok perlawanan baru di Tepi Barat.

Namun, menurut penulis, harapan tersebut tidak terwujud karena beberapa faktor.

Pertama, sebagian perhitungan itu lebih didorong oleh harapan daripada pembacaan objektif terhadap kondisi di lapangan.

Kedua, Hamas dinilai kurang memperhitungkan perubahan besar yang terjadi di Tepi Barat selama bertahun-tahun, termasuk perubahan dalam struktur keamanan Otoritas Palestina serta semakin kuatnya koordinasi keamanan dengan Israel.

Ketiga, Hamas dinilai kurang memperhitungkan pelajaran yang telah dipetik Israel dari Intifada sebelumnya, sehingga Israel telah menyiapkan berbagai langkah pencegahan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.

Peran Iran dan Poros Sekutunya

Penulis juga menyinggung perhitungan Hamas terhadap Iran dan kelompok-kelompok sekutunya.

Menurutnya, penilaian bahwa Iran dan poros sekutunya akan tinggal diam terbukti tidak sepenuhnya benar. Mereka memang terlibat dalam perang dukungan terhadap Gaza dan membayar harga yang sangat mahal, terutama di Lebanon.

Meski demikian, penulis berpendapat bahwa kesalahan utama terletak pada strategi yang diterapkan poros tersebut. Medan pertempuran, menurutnya, bergerak secara bergantian, bukan berlangsung serentak sebagaimana yang diharapkan. Ia menilai hal itu merupakan kekeliruan strategis yang terutama berasal dari perhitungan Teheran.

Namun demikian, penulis berpendapat bahwa tanpa keterlibatan poros tersebut, konflik tidak akan berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas di kawasan, termasuk perang yang melibatkan Iran pada tahun-tahun berikutnya.

Menurutnya, hasil akhir dari konflik-konflik tersebut menunjukkan bahwa Israel belum berhasil memulihkan daya gentarnya, sementara Amerika Serikat juga dinilai gagal sepenuhnya memaksakan dominasinya di kawasan.

Kekeliruan Perhitungan yang Tidak Diperkirakan

Penulis mengakui bahwa tidak seorang pun, termasuk dirinya, Hamas maupun para pengamat lainnya, memperkirakan tingkat kehancuran dan kekerasan yang terjadi akan sedemikian besar.

Ia juga mengaku tidak membayangkan lemahnya respons Otoritas Palestina maupun Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), serta minimnya langkah yang diambil negara-negara Arab dan negara-negara Islam dalam membantu warga Gaza.

Menurut penulis, apabila ada pihak yang ingin menyalahkan Hamas karena kesalahan perhitungan politik atau militer, hal itu dapat diperdebatkan. Namun, ia menilai tidak adil apabila seluruh beban tragedi tersebut dibebankan kepada kelompok perlawanan, sementara kegagalan maupun sikap pasif berbagai pihak lain diabaikan.

Kritik terhadap Barat

Penulis juga mengkritik sikap negara-negara Barat, khususnya negara-negara demokrasi yang selama ini mengklaim sebagai pembela hak asasi manusia.

Menurutnya, dukungan Barat terhadap Israel telah berubah menjadi bentuk keterlibatan politik yang mencoreng citra mereka sendiri. Ia menilai dampaknya mulai terlihat dalam dinamika politik domestik sejumlah negara Barat, ketika sebagian pemimpin menghadapi tekanan politik dan penurunan dukungan publik.

Di sisi lain, penulis melihat masih ada harapan melalui masyarakat sipil di negara-negara Barat yang terus melakukan aksi solidaritas terhadap Palestina. Menurutnya, kelompok-kelompok inilah yang perlahan mengubah cara dunia memandang konflik Palestina-Israel dan berpotensi membuat Israel semakin terisolasi di masa depan.

Pandangan Rakyat Palestina

Pada bagian akhir, penulis menyatakan bahwa setelah seribu hari perang, mayoritas rakyat Palestina dinilai memiliki pemahaman yang semakin jelas terhadap situasi yang mereka hadapi.

Ia merujuk pada berbagai hasil survei yang menurutnya menunjukkan bahwa, meskipun harus membayar harga yang sangat mahal sejak 7 Oktober, sebagian besar rakyat Palestina masih memberikan penilaian positif terhadap Operasi Thufan Al-Aqsa, tetap mendukung perlawanan bersenjata, serta masih memberikan dukungan kepada Hamas. Sebaliknya, dukungan terhadap Otoritas Palestina disebut jauh lebih kecil.

Penulis mengakui adanya perbedaan pandangan di kalangan rakyat Palestina, baik antara mereka yang berada di Gaza, Tepi Barat, maupun di luar Palestina. Perbedaan tersebut, menurutnya, merupakan sesuatu yang wajar, terutama dalam situasi perang.

Namun ia menutup artikelnya dengan keyakinan bahwa rakyat Palestina belum kehilangan kepercayaan terhadap perjuangan nasional mereka. Menurut penulis, mereka tetap berpegang teguh pada tanah airnya, meyakini legitimasi perjuangan mereka, serta percaya bahwa setelah Operasi Thufan Al-Aqsa, perjuangan Palestina akan berlanjut dari posisi yang lebih kuat, apa pun bentuk dan strategi yang akan ditempuh pada masa mendatang.

Sumber; Quds News Network

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights