Bagaimana Masjid Al-Aqsa Dapat Dilindungi? Sebuah Refleksi atas Berbagai Pengalaman Sebelumnya

Setelah peristiwa yang disebut sebagai serangan terbesar terhadap Masjid Al-Aqsa sepanjang tahun ini—yang menurut penulis merupakan tindakan paling berat sejak pendudukan kawasan tersebut—muncul satu pertanyaan yang terus mengemuka di benak banyak orang, baik di Palestina maupun di berbagai belahan dunia: Bagaimana Masjid Al-Aqsa dapat dilindungi? Apa yang dapat dilakukan di tengah meningkatnya tekanan dan dominasi Israel, yang menurut penulis didukung oleh Amerika Serikat serta sikap sebagian negara Arab dan Islam?

Penulis mengakui bahwa pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab. Menurutnya, jawaban yang dibutuhkan bukan sekadar berupa kata-kata, melainkan tindakan nyata. Ia menyatakan bahwa siapa pun yang benar-benar memiliki jawabannya hendaknya menunjukkannya melalui perbuatan.

Penulis kemudian menggambarkan kegelisahan yang dirasakan banyak orang ketika menyaksikan berbagai perkembangan di Masjid Al-Aqsa. Ia mempertanyakan bagaimana masyarakat dapat menerima situasi ketika masjid itu, menurut pandangannya, terus mengalami perubahan, sementara berbagai aktivitas yang dianggap tidak sesuai dengan kesucian tempat tersebut berlangsung di dalam kompleks masjid. Di sisi lain, ia juga menyoroti pembatasan terhadap jamaah Muslim yang ingin memasuki dan beribadah di Al-Aqsa.

Menoleh kepada Pengalaman Masa Lalu

Menurut penulis, sebagian jawaban dapat ditemukan dengan melihat pengalaman sejarah. Ia berpendapat bahwa Masjid Al-Aqsa telah menjadi sasaran berbagai bentuk tekanan sejak awal berdirinya gerakan Zionis di Palestina. Dalam pandangannya, tujuan akhir dari kebijakan tersebut adalah mengubah status Al-Aqsa dan membangun kembali Bait Suci Yahudi di lokasi tersebut.

Untuk menjelaskan pandangannya, penulis menguraikan sebelas peristiwa penting yang menurutnya menjadi tonggak dalam upaya mempertahankan Masjid Al-Aqsa selama hampir satu abad.

Peristiwa pertama adalah Revolusi Al-Buraq tahun 1929, yang meletus ketika peringatan kehancuran Bait Suci Yahudi. Penulis menilai peristiwa tersebut menjadi titik awal yang menunjukkan bahwa setiap tindakan terhadap Al-Aqsa akan menimbulkan reaksi besar. Ia juga menyebut keterlibatan tokoh India Muhammad Ali Jauhar, yang datang ke Yerusalem untuk mendukung pelestarian Al-Aqsa bersama Mufti Yerusalem, Haj Amin al-Husseini.

Setelah itu, menurut penulis, tidak ada gelombang besar hingga meletusnya Intifada Pertama, yang mengembalikan pusat perlawanan ke wilayah Palestina. Selanjutnya ia menyebut peristiwa Masjid Al-Aqsa tahun 1990, Intifada Terowongan tahun 1996, serta Intifada Al-Aqsa tahun 2000, yang dipicu oleh kunjungan Ariel Sharon ke kompleks Masjid Al-Aqsa.

Gelombang Protes di Yerusalem

Penulis kemudian menjelaskan bahwa ketika tekanan terhadap kelompok-kelompok perlawanan di Tepi Barat semakin meningkat, Masjid Al-Aqsa kembali menjadi titik pemersatu masyarakat Palestina.

Ia menyebut berbagai aksi masyarakat Yerusalem pada tahun 2013 sebagai salah satu fase penting, yang menurutnya berhasil menghambat masuknya kelompok-kelompok pemukim melalui aksi berdiam di dalam masjid (i’tikaf) dan penjagaan (ribath).

Selanjutnya ia mengulas sejumlah peristiwa lain, seperti gelombang aksi tahun 2015, protes Gerbang Al-Asbat pada 2017 terkait pemasangan gerbang elektronik, serta aksi pembukaan Mushala Bab ar-Rahmah pada 2019.

Menurut penulis, seluruh rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa berbagai bentuk aksi masyarakat mampu memengaruhi perkembangan situasi di Masjid Al-Aqsa.

Peristiwa Setelah Tahun 2021

Penulis juga menyoroti perkembangan setelah Perjanjian Abraham dan berbagai dinamika politik di kawasan.

Ia menyebut bahwa penolakan terhadap penggusuran warga Syekh Jarrah, aksi di Gerbang Damaskus (Bab al-Amud), serta peristiwa menjelang akhir Ramadan tahun 2021 menjadi bagian dari rangkaian yang kemudian berkembang menjadi Operasi “Saif al-Quds”.

Selanjutnya, ia menyebut aksi i’tikaf pada tahun 2023 dan Operasi Thufan Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 sebagai bagian dari rangkaian panjang yang menurutnya bertujuan mempertahankan berbagai hak rakyat Palestina, termasuk status Masjid Al-Aqsa.

Menurut Penulis, Sejarah Belum Berakhir

Penulis berpendapat bahwa sebelas peristiwa tersebut, meskipun berbeda bentuk dan waktunya, memiliki tujuan yang sama, yaitu mencegah perubahan terhadap status Masjid Al-Aqsa. Menurutnya, setiap periode memiliki karakteristik tersendiri, mulai dari intifada, aksi massa, hingga bentuk-bentuk perlawanan lainnya.

Ia juga menyatakan bahwa perang yang sedang berlangsung merupakan upaya untuk mengakhiri seluruh rangkaian sejarah tersebut. Namun, menurut pandangannya, sejarah belum berakhir dan berbagai pengalaman masa lalu masih dapat menjadi sumber pelajaran bagi masyarakat Palestina maupun pendukung mereka.

Pentingnya Kemauan Bersama

Pada bagian penutup, penulis menyatakan bahwa pengalaman selama hampir satu abad menunjukkan adanya berbagai bentuk aksi, mulai dari tindakan individu, demonstrasi, aksi massa, penjagaan di Masjid Al-Aqsa, aktivitas media, hingga gerakan solidaritas di berbagai negara.

Menurutnya, seluruh pengalaman tersebut merupakan sumber pelajaran yang dapat dijadikan rujukan dalam menghadapi tantangan di masa mendatang. Namun, ia menekankan bahwa unsur yang paling penting bukanlah bentuk aksinya, melainkan adanya kemauan dan tekad bersama. Penulis menutup artikelnya dengan menyatakan bahwa selama kemauan tersebut tetap ada, perjuangan yang menurut pandangannya telah berlangsung selama puluhan tahun akan terus berlanjut.

Catatan: Teks diatas merupakan terjemahan dari sebuah artikel opini. Isi di dalamnya mencerminkan pandangan penulis.

Sumber; Quds News Network

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights